Kamis, 02 Januari 2014

Yunisa Priyono : Berawal dari Hobi dan Cinta



Memiliki pekerjaan adalah hal yang ditunggu-tunggu  oleh setiap orang untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Terlebih jika sudah cukup usia untuk bekerja. Akan tetapi, sangat menyebalkan dan menyeramkan rasanya jika kita bekerja di bawah paksaan dan tidak meyukai pekerjaan tersebut. Sangat sulit untuk menekuni profesi kita. Tetapi, tentu sangat menyenangkan jika kita bekerja di bidang yang kita sukai dan diidam-idamkan sejak dulu. Inilah yang dialami Yunisa Priyono.
Ada beberapa hal yang membuat Yunisa Priyono menjadikan penulis sebagai profesinya. Pria yang akrab disapa Yunisa ini lahir di Bantul dua puluh sembilan tahun silam. Ia menuturkan “Saya mencintai menulis, dari menulis saya dapat menyalurkan hobi saya.” Ia pun mengaku bahwa di bidang tulis-menulis inilah adalah passionnya. Inilah alasan yang menjadikan penulis sebagai profesinya. Selain menjadi penulis dalam profesinya ia juga merangkap menjadi editor buku di penerbit Citra Media, salah satu penerbit di kota Yogyakarta. Memulai profesinya menjadi penulis dan editor terbilang cukup lama.  Sejak tahun 2003 sampai sekarang, bisa dihitung kurang lebih sudah sepuluh tahun. Dari waktu yang cukup lama itulah ia telah mengedit ratusan naskah, menulis berbagai macam buku baik dari fiksi maupun non-fiksi. Ia juga pernah mengirim naskah berupa artikel dan cerpen di media massa dan ditebitkan, seperti di Kedaulatan Rakyat. Ini beberapa contoh karyanya :
 










Untuk rincian pekerjaan kepenulisannya “Dimulai dengan mencari tema, mengumpulkan bahan kemudian dikirimkan kepenerbit atau media massa. Untuk editor ia hanya bertugas memperbaiki naskah agar enak dan layak dibaca.” Kata Pak Yunisa. Saat tulisannya dimuat di media massa ia mengatakan bahwa penghasilan yang didapat tidaklah seberapa. Lain lagi ketika menulis buku. Ia bisa mendapat royalti kira-kira 10% dari jumlah buku yang terjual. Sementara penghasilan yang didapat dari pekerjaannya ediotor kiranya cukup untuk hidup sederhana.
Mengawali karier sebagai penulis, yang awalnya sejak dulu ia juga suka mengarang cerita. Saat itu, ketika di bangku kuliah, ia termotivasi oleh seniornya untuk menulis di media massa hingga dimuat. Lalu sambil kuliah ia mulai menjadi penulis freelance dan banyak membaca buku terutama novel. Setelah lulus kuliah dari jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ia bekerja di bidang jurnalistik kemudian menjadi editor. Dan akhirnya tetap  menulis sepanjang hayat. Untuk menjadi penulis, menurutnya kompetensi yang harus dimiliki adalah sederhana. Yakni ada tiga hal, pertama mencari ide, kedua mengembangkannya dan yang ketiga adalah menuangkannya ke dalam tulisan. Memang tidak mudah. Untuk memperoleh ketiga kompetensi yang sudah disebutkan kita harus rajin membaca buku dan latihan menulis langsung.
Selama bekerja menjadi penulis dan editor dari tahun 2003. Suka duka yang pernah dialami tentu banyak sekali. Salah satunya, saat karyanya diterima, dihargai oleh pembaca dan berguna untuk masyarakat. Ini adalah sukanya dari profesinya menulis. Sedangkan untuk dukanya adalah hal sebaliknya dari suka yang pernah di alami. Tulisannya tidak diterima dan tidak dihargai pembaca. Berbeda lagi dengan pengalamannya. Pengalaman yang sangat menyenangkan, ia pernah mengirim artikel ke media massa dan artikel itu dimuat. Dari dimuatnya artikel tersebut ia mendapatkan honor perdana, kira-kira tahun 2003 lalu. Pengalamannya yang tidak menyenangkan ialah ketika naskah novel pertamanya diterima oleh penerbit, tetapi setahun lebih kemudian kontrak penerbitan itu dibatalkan secara sepihak. Dari pengalaman yang tidak menyenangkan itulah ia mengambil hikmah untuk mengatasinya yakni, untuk tidak mengirim naskah kepada penerbit yang tidak professional. Jika tiga bulan telah berlalu belum ada konfirmasi atau kepastian maka tarik saja kembali naskah tersebut. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti sering mengikuti berita terkini dapat menunjang terbentuknya profesi menulis. Selain itu keterbukaan terhadap informasi dan up to date merupakan karakteristik pribadi yang juga dapat menunjang profesi kepenulisan.
Terkait dengan isu Asian Free Trade Assigment (AFTA) 2015, Yunisa tidak begitu khawatir. Karena, prospek menulis akan selalu ada dan dibutuhkan baik di media offline maupun online, serta tak terbatas ruang dan waktu.
 

Pewawancara : Mita Karunia (13730002)
Wawancara melalui email pada tanggal 30 Desember 2013.
Dan artikel disusun pada tanggal 31 Desember 2013.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar