Memiliki pekerjaan adalah hal yang
ditunggu-tunggu oleh setiap orang untuk
menunjang kebutuhan hidupnya. Terlebih jika sudah cukup usia untuk bekerja.
Akan tetapi, sangat menyebalkan dan menyeramkan rasanya jika kita bekerja di
bawah paksaan dan tidak meyukai pekerjaan tersebut. Sangat sulit untuk menekuni
profesi kita. Tetapi, tentu sangat menyenangkan jika kita bekerja di bidang
yang kita sukai dan diidam-idamkan sejak dulu. Inilah yang dialami Yunisa Priyono.
Ada
beberapa hal yang membuat Yunisa Priyono menjadikan penulis sebagai profesinya.
Pria yang akrab disapa Yunisa ini lahir di Bantul dua puluh sembilan tahun
silam. Ia menuturkan “Saya mencintai menulis, dari menulis saya dapat
menyalurkan hobi saya.” Ia pun mengaku bahwa di bidang tulis-menulis inilah
adalah passionnya. Inilah alasan yang menjadikan penulis sebagai profesinya. Selain
menjadi penulis dalam profesinya ia juga merangkap menjadi editor buku di
penerbit Citra Media, salah satu penerbit di kota Yogyakarta. Memulai
profesinya menjadi penulis dan editor terbilang cukup lama. Sejak tahun 2003 sampai sekarang, bisa
dihitung kurang lebih sudah sepuluh tahun. Dari waktu yang cukup lama itulah ia
telah mengedit ratusan naskah, menulis berbagai macam buku baik dari fiksi
maupun non-fiksi. Ia juga pernah mengirim naskah berupa artikel dan cerpen di
media massa dan ditebitkan, seperti di Kedaulatan Rakyat. Ini beberapa contoh
karyanya :
Untuk rincian pekerjaan kepenulisannya “Dimulai dengan
mencari tema, mengumpulkan bahan kemudian dikirimkan kepenerbit atau media
massa. Untuk editor ia hanya bertugas memperbaiki naskah agar enak dan layak
dibaca.” Kata Pak Yunisa. Saat tulisannya dimuat di media massa ia mengatakan
bahwa penghasilan yang didapat tidaklah seberapa. Lain lagi ketika menulis
buku. Ia bisa mendapat royalti kira-kira 10% dari jumlah buku yang terjual.
Sementara penghasilan yang didapat dari pekerjaannya ediotor kiranya cukup
untuk hidup sederhana.
Mengawali karier sebagai penulis, yang awalnya sejak dulu
ia juga suka mengarang cerita. Saat itu, ketika di bangku kuliah, ia
termotivasi oleh seniornya untuk menulis di media massa hingga dimuat. Lalu
sambil kuliah ia mulai menjadi penulis freelance
dan banyak membaca buku terutama novel. Setelah lulus kuliah dari jurusan Ilmu
Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ia bekerja di bidang jurnalistik
kemudian menjadi editor. Dan akhirnya tetap
menulis sepanjang hayat. Untuk menjadi penulis, menurutnya kompetensi
yang harus dimiliki adalah sederhana. Yakni ada tiga hal, pertama mencari ide,
kedua mengembangkannya dan yang ketiga adalah menuangkannya ke dalam tulisan.
Memang tidak mudah. Untuk memperoleh ketiga kompetensi yang sudah disebutkan
kita harus rajin membaca buku dan latihan menulis langsung.
Selama bekerja menjadi penulis dan editor dari tahun
2003. Suka duka yang pernah dialami tentu banyak sekali. Salah satunya, saat
karyanya diterima, dihargai oleh pembaca dan berguna untuk masyarakat. Ini
adalah sukanya dari profesinya menulis. Sedangkan untuk dukanya adalah hal
sebaliknya dari suka yang pernah di alami. Tulisannya tidak diterima dan tidak
dihargai pembaca. Berbeda lagi dengan pengalamannya. Pengalaman yang sangat
menyenangkan, ia pernah mengirim artikel ke media massa dan artikel itu dimuat.
Dari dimuatnya artikel tersebut ia mendapatkan honor perdana, kira-kira tahun
2003 lalu. Pengalamannya yang tidak menyenangkan ialah ketika naskah novel
pertamanya diterima oleh penerbit, tetapi setahun lebih kemudian kontrak
penerbitan itu dibatalkan secara sepihak. Dari pengalaman yang tidak
menyenangkan itulah ia mengambil hikmah untuk mengatasinya yakni, untuk tidak
mengirim naskah kepada penerbit yang tidak professional. Jika tiga bulan telah
berlalu belum ada konfirmasi atau kepastian maka tarik saja kembali naskah
tersebut. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti sering mengikuti berita terkini
dapat menunjang terbentuknya profesi menulis. Selain itu keterbukaan terhadap
informasi dan up to date merupakan
karakteristik pribadi yang juga dapat menunjang profesi kepenulisan.
Terkait dengan isu Asian Free Trade Assigment (AFTA) 2015,
Yunisa tidak begitu khawatir. Karena, prospek menulis akan selalu ada dan
dibutuhkan baik di media offline maupun online, serta tak terbatas ruang dan waktu.
Pewawancara : Mita Karunia (13730002)
Wawancara melalui email pada tanggal 30
Desember 2013.
Dan artikel disusun pada tanggal 31 Desember
2013.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar