Erwin Khusnul Maarif adalah seorang reporter
kelahiran Demak pada yanggal 10 November 1986 yang saat ini berdomisili di
jalan Abdur Rachman Saleh, Bregas, Semarang. Meskipun latar belakang
pendidikannya adalah sarjana pendidikan biologi di Universitas Negeri Semarang,
beliau sangat mahir dalam bidang media informasi. Pada tahun 2008 beliau
bergabung dengan radio swasta di Semarang dengan menjadi penyiar radio. Karena ketidak
sengajaan, seirinf perjalanan waktu, salah satu reporter di radio tersebut
resign, dan pada tahun 2009 beliau pndah job desk dari announcer menjadi
reporter.awal mula dengan pekerjaan barunya, beliau belum mempunyai basic dalam
bidang tersebut. Namun dengan terus berlatih dan mau belajar dengan
senior-seniornya, beliau mengalami perkembangan yang baik dalam bidangnya. Selain
itu dengan mengikuti berbagai latihan yang diadakan oleh Asosiasi Jurnalis
khususnya di Jawa Tengah seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Indonesia). Dengan mengikuti
pelatihan-pelatihan tersebut, pengetahuan akan semakin terasah sehingga mampu
menulis berita dengan benar, dari isu-isu yang sudah ada. Untuk prestasi yang
pernah diraih, beliau belum pernah mengikuti kompetisi yang sangat menonjol
seperti yang diadakan oleh AJI, namun perlombaan karya jurnalis pernah
diikutinya yaitu penulisan future yang diadakan oleh KPID (Komisi Penyiaran
Indonesia Daerah) di Jawa Tengah pada tahun 2010 yang pada saat itu masuk dalam
nominasi favorit diseluruh radio di Jawa Tengah.
Untuk rincian
cara kerja reporter itu sendiri menurutnya dengan hunting news. Yaitu dengan
datang ke tempatkejadian, lalu mewawancarai narasumber, dan informasi yang
diperoleh dari narasumber tersebut diolah dan diproduksi menjadi sebuah karya
jurnalis kemudia dipublikasikan. Menurutnya, wartawan itu sendiri lenih
spesifik dalam memproduksi berita.
Untuk menunjang
profesi ini, ada beberapa kompetensi
yang harus dimiliki. Menurutnya dengan belajar langsung ke lapangan adalah
salah satu cara yang baik. Dengan terjung langsung, maka dengan sendirinya
question road akan semakin tertata. Begitu juga dengan karakteristik diri juga
dibutuhkan dalam bidang ini pula. Menurutnya, untuk menjadi seorang jurnalis
harus strugle, mempunyai kemauan yang gigih ketika dihadapkan dengan situasi
tertentu, wajib militan dan tidak boleh malas. Mau belajar, tidak mudah sakit
hati ketika dihadapkan dengan narasumber dengan karakteristik yang
berbeda-beda, tidak gampang menyerah dengan mematuhi kode etik jurnalis dengan
menjunjung tinggi idealisme jurnalis,dan tidak egois ketika memperoleh
berita dan tidak sungkang-sungkan untuk
share dengan jurnalis-jurnalis lainnya. Karena jurnalis itu merupakan team work
yang juga dituntut untuk berbagi informasi. Kecuali apabila wawancara tersebut
merupakan penugasan eksklusif. Untuk menumbuhkan karakteristik itu sendiri
tidak ada teori khusus. Learning by doing, dengan probadi masing-masing yang
mau belajar dari senior dan tidak malu untuk bertanya lalu menumbuhkan sugesti
untuk menjadi jurnalis yangbaik maka dengan sendirinya karakteristik itu akan
terbentuk.
Dalam menjalankan
profesi ini sudah menjadi hal yang alamiah ketika mengalami suka dan duka. Beliau
mengangggap bahwa suka lebih bayak dialami ketimbang dukanya. Karena profesi
ini tidak hanya stay dalam satu ruangan. Profesi ini lebih membutuhkan
interaksi dengan banyak orang dengan berbagai macam karakteristik. Sehingga lebih
mampu menempatkan diri ketika di publik sehinga empati dan simpati lebih
terbentuk dan terasah sehingga secara tidak langsung dapat membangun link
seperti dengan birokrasi, kepolisisan, sertainstansi-instansi lainnya. Dengan link
yang sudah terjalin, maka informasi yang dibutuhkan lebih mudah untuk diakses.
Dan untuk
dukanya sendiri, jam kerja seorang reporter tidak dibatasi. Berbeda dengan
jamkantor yang dibatasi kurang lebih 10 jam, tetapi untuk wartawan sendiri
dalam 24 jam harus stand by ketika ada informasi suatu peristiwa. Sehingga mengurangi
jam untuk istirahat dan waktu untuk keluarga.
Dalam perjalanan
kariernya, beliau mempunyai pengalaman yang sangat berkesan, yaitu ketika
kejadian meletusnya merapi, dari semarang beliau langsung ke TKP, yang saat itu
sedang terjadi hujan abu sehingga jarak pandang semakin berkurang. Dan ketika
sampai di camp pengungsian, benar-benar sangat miris karena pengungsi mengalami
banyak kekurangan baik logistik, air, maupun obat-obatan. Dan pada saat siang
hari ketika jam makan siang, suasana berubah mencekam, karena hujan abu
tiba-tiba datang yang kemudian barak-barak tentara itu seolah dilrmpari batu
kerikil selama 15-20 menit. Bahkan ketika itu keadaan semakin panik dengan
salah satu pengungsi yang kesurupan pada setiap malam dengan pakaian dan
nyanyian yang berubah menjadi pesinden. Dan
pada saat itu pula ia meminta untuk diantar ke pantai selatan. Sesampainya di
sana ia kemudian bersujud kearah panti kemudian pingsan dan ketika sadar ia
sudah kembali normal. Pengalaman ini benar-benar sangat berkesan, karena tidak
semua orang dapat mengakses informasi ini secara langsung di tempat kejadian.
Berikutnya
beliau berpendapat bahwa profesi jurnalis itu tidak akan pernah mati. Setiap pribadi
sangat membutuhkan informasi. Meskipun dengan perkembangan jaman dari media
informasi analog berganti figital tetap
saja informasi itu dibutuhkan oleh semua orang. Meskipun awalnya mainset
masyarakat bahwa jurnalis itu tugasnya hanya sebagai pencari berita, namun
dikemudian hari akan berkembang lebih luas, menjadi humas misalnya. Untuk menghadapi
AFTA 2015, pengaruh terhadap reporter itu sendiri tidak terlalu signifikan. Karena
seiring perkembangan peknologi, jurnalis jga akan semakin berkembanh dengan
menyesuaikan era dan dimanapun tempatnya, entah dengan perlengkapan reporting
yang bisa jadi semakin berkembang juga. Tidak dapat dipungkiri pula bhwa
tantangan kedepan juga semakin berat, namun beliau sangat yakin bahwa jurnalis
dapat mengikuti dan menyesuaikan perkembangan jaman sehingga dapat memenuhi
tuntutan publik yang mengalami perkembangan pula.
Intan Fitriana/13730001/Ilmu Komunikasi A
Intan Fitriana/13730001/Ilmu Komunikasi A

Tidak ada komentar:
Posting Komentar