Kamis, 02 Januari 2014

Profil Reporter Radio Swasta


 Erwin Khusnul Maarif adalah seorang reporter kelahiran Demak pada yanggal 10 November 1986 yang saat ini berdomisili di jalan Abdur Rachman Saleh, Bregas, Semarang. Meskipun latar belakang pendidikannya adalah sarjana pendidikan biologi di Universitas Negeri Semarang, beliau sangat mahir dalam bidang media informasi. Pada tahun 2008 beliau bergabung dengan radio swasta di Semarang dengan menjadi penyiar radio. Karena ketidak sengajaan, seirinf perjalanan waktu, salah satu reporter di radio tersebut resign, dan pada tahun 2009 beliau pndah job desk dari announcer menjadi reporter.awal mula dengan pekerjaan barunya, beliau belum mempunyai basic dalam bidang tersebut. Namun dengan terus berlatih dan mau belajar dengan senior-seniornya, beliau mengalami perkembangan yang baik dalam bidangnya. Selain itu dengan mengikuti berbagai latihan yang diadakan oleh Asosiasi Jurnalis khususnya di Jawa Tengah seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Indonesia). Dengan mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut, pengetahuan akan semakin terasah sehingga mampu menulis berita dengan benar, dari isu-isu yang sudah ada. Untuk prestasi yang pernah diraih, beliau belum pernah mengikuti kompetisi yang sangat menonjol seperti yang diadakan oleh AJI, namun perlombaan karya jurnalis pernah diikutinya yaitu penulisan future yang diadakan oleh KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) di Jawa Tengah pada tahun 2010 yang pada saat itu masuk dalam nominasi favorit diseluruh radio di Jawa Tengah.
Untuk rincian cara kerja reporter itu sendiri menurutnya dengan hunting news. Yaitu dengan datang ke tempatkejadian, lalu mewawancarai narasumber, dan informasi yang diperoleh dari narasumber tersebut diolah dan diproduksi menjadi sebuah karya jurnalis kemudia dipublikasikan. Menurutnya, wartawan itu sendiri lenih spesifik dalam memproduksi berita.
Untuk menunjang profesi  ini, ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki. Menurutnya dengan belajar langsung ke lapangan adalah salah satu cara yang baik. Dengan terjung langsung, maka dengan sendirinya question road akan semakin tertata. Begitu juga dengan karakteristik diri juga dibutuhkan dalam bidang ini pula. Menurutnya, untuk menjadi seorang jurnalis harus strugle, mempunyai kemauan yang gigih ketika dihadapkan dengan situasi tertentu, wajib militan dan tidak boleh malas. Mau belajar, tidak mudah sakit hati ketika dihadapkan dengan narasumber dengan karakteristik yang berbeda-beda, tidak gampang menyerah dengan mematuhi kode etik jurnalis dengan menjunjung tinggi idealisme jurnalis,dan tidak egois ketika memperoleh berita  dan tidak sungkang-sungkan untuk share dengan jurnalis-jurnalis lainnya. Karena jurnalis itu merupakan team work yang juga dituntut untuk berbagi informasi. Kecuali apabila wawancara tersebut merupakan penugasan eksklusif. Untuk menumbuhkan karakteristik itu sendiri tidak ada teori khusus. Learning by doing, dengan probadi masing-masing yang mau belajar dari senior dan tidak malu untuk bertanya lalu menumbuhkan sugesti untuk menjadi jurnalis yangbaik maka dengan sendirinya karakteristik itu akan terbentuk.
Dalam menjalankan profesi ini sudah menjadi hal yang alamiah ketika mengalami suka dan duka. Beliau mengangggap bahwa suka lebih bayak dialami ketimbang dukanya. Karena profesi ini tidak hanya stay dalam satu ruangan. Profesi ini lebih membutuhkan interaksi dengan banyak orang dengan berbagai macam karakteristik. Sehingga lebih mampu menempatkan diri ketika di publik sehinga empati dan simpati lebih terbentuk dan terasah sehingga secara tidak langsung dapat membangun link seperti dengan birokrasi, kepolisisan, sertainstansi-instansi lainnya. Dengan link yang sudah terjalin, maka informasi yang dibutuhkan lebih mudah untuk diakses.
Dan untuk dukanya sendiri, jam kerja seorang reporter tidak dibatasi. Berbeda dengan jamkantor yang dibatasi kurang lebih 10 jam, tetapi untuk wartawan sendiri dalam 24 jam harus stand by ketika ada informasi suatu peristiwa. Sehingga mengurangi jam untuk istirahat dan waktu untuk keluarga.
Dalam perjalanan kariernya, beliau mempunyai pengalaman yang sangat berkesan, yaitu ketika kejadian meletusnya merapi, dari semarang beliau langsung ke TKP, yang saat itu sedang terjadi hujan abu sehingga jarak pandang semakin berkurang. Dan ketika sampai di camp pengungsian, benar-benar sangat miris karena pengungsi mengalami banyak kekurangan baik logistik, air, maupun obat-obatan. Dan pada saat siang hari ketika jam makan siang, suasana berubah mencekam, karena hujan abu tiba-tiba datang yang kemudian barak-barak tentara itu seolah dilrmpari batu kerikil selama 15-20 menit. Bahkan ketika itu keadaan semakin panik dengan salah satu pengungsi yang kesurupan pada setiap malam dengan pakaian dan nyanyian yang berubah menjadi pesinden.  Dan pada saat itu pula ia meminta untuk diantar ke pantai selatan. Sesampainya di sana ia kemudian bersujud kearah panti kemudian pingsan dan ketika sadar ia sudah kembali normal. Pengalaman ini benar-benar sangat berkesan, karena tidak semua orang dapat mengakses informasi ini secara langsung di tempat kejadian.
Berikutnya beliau berpendapat bahwa profesi jurnalis itu tidak akan pernah mati. Setiap pribadi sangat membutuhkan informasi. Meskipun dengan perkembangan jaman dari media informasi  analog berganti figital tetap saja informasi itu dibutuhkan oleh semua orang. Meskipun awalnya mainset masyarakat bahwa jurnalis itu tugasnya hanya sebagai pencari berita, namun dikemudian hari akan berkembang lebih luas, menjadi humas misalnya. Untuk menghadapi AFTA 2015, pengaruh terhadap reporter itu sendiri tidak terlalu signifikan. Karena seiring perkembangan peknologi, jurnalis jga akan semakin berkembanh dengan menyesuaikan era dan dimanapun tempatnya, entah dengan perlengkapan reporting yang bisa jadi semakin berkembang juga. Tidak dapat dipungkiri pula bhwa tantangan kedepan juga semakin berat, namun beliau sangat yakin bahwa jurnalis dapat mengikuti dan menyesuaikan perkembangan jaman sehingga dapat memenuhi tuntutan publik yang mengalami perkembangan pula.

Intan Fitriana/13730001/Ilmu Komunikasi A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar